Tuhan dan Ambigu-Ambigu-Nya

Tuhan dan Determinasi Agama

Saya sebenarnya tak tahu sosok Tuhan itu seperti apa, Dia memang terlalu transenden untuk didefinisikan dan juga Dia tidak eksis untuk digambarkan. Saya tak tahu Dia sedang sendirian atau tidak, semestinya dia seperti halnya sebuah postulat yang telah menjadi teori, “Berlaku di mana saja, dan kapan saja” atau “Dia ada di mana saja, dan hadir kapan saja”

Karen Amstrong sendiri dalam buku the History of God, sebenarnya bukan mencoba untuk mendefinisikan seperti apa Tuhan itu sebenarnya, namun mencoba melakukan eksplorasi sejarah pemikiran manusia-manusia mengenai Tuhan itu sendiri. Apa yang dilakukannya memang cukup mengelaborasi konsep tentang Tuhan dan mencoba mengerucutkannya dengan mengadopsi melalui agama-agama Abrahamistik atau agama Samawi (Langitan). Tetapi juga dalam bukunya secara tidak langsung telah terjadi diskriminasi sudut pandang di sini, agama-agama yang berakar dari sebuah perenungan manusia dan pergulatan dalam kehidupan seakan tak hadir di situ. Apa pasal? Latar belakang mengarfimasi agama-agama tersebut dari sebuah analisis mengenai sejarah manusia berfikir mengenai Tuhannya menurutnya adalah karena perdebatan dengan agama-agama tersebut seringkali terhenti mengenai pembahasan asal-usul kehidupan. Lalu sebenarnya apa fungsi agama itu sendiri? Apakah cukup sebagai sebuah pengatur dan tuntunan hidup atau harus hadir sebagai layaknya theory of everything (mampu menjelaskan segalanya).

“Tuhan seharusnya hanya sendirian, tapi entah dewasa ini Dia nampak semakin banyak.”

Dalam pernyataan ini justru yang terjadi adalah bukan hanya merasa dewasa ini semakin banyaknya Tuhan itu sendiri (kuantitas), namun juga fungsi Tuhan itu yang terkadang semakin terasa kerdil (kualitas).

Memang benar wahyu dan firman Tuhan termanifestasikan dalam ritus-ritus agama yang kemudian terkadang berakulturasi dengan budaya dan tata cara sosial masyarakat. Hal ini kemudian hadirlah simbol-simbol yang membedakan mana agama A ataupun agama B (inter-relation) dan kemudian juga mana agama A aliran X dengan agama B aliran Y (intra-relation). Semua kategori tersebut sebenarnya adalah hasil sebuah rekayasa sosial yang tercipta oleh masyarakat itu sendiri. Layaknya sebuah konsensus tak tersirat dalam memetakan sosok-sosok religius dalam masyarakat.

Esensi Tuhan di sini pada akhirnya mulai terdestruktif, seakan-akan simbol-simbol berbicara lebih kencang dibandingkan firman Tuhan. Seakan takdir hadir dan tercipta dari siapa saja yang dikultuskan di antara golongan-golongan yang ada. Otoritarianisme agama muncul dengan dapat menentukan siapa yang berada dalam jalur kebenaran dan siapa yang kuffar baik dalam inter atau intra hubungan dalam agama tersebut.

Selain itu, dalam kehidupan masyarakat baik dalam level yang sangat tradisional maupun sangat modern sekalipun manusia seringkali secara tidak sadar sedang mengkerdilkan fungsi Tuhan itu sendiri, baik pada saat menerima berbagai kesulitan ataupun mencari jalan menuju kebahagiaan. Ruang-ruang untuk mencapai hal-hal duniawi dan manusiawi sudah semakin terasionalkan dan bahkan manusia semakin jumawa dengan telah berkembang pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu melewati batas pemikiran manusia-manusia sebelumnya. Akhirnya manusia terlupa saat-saat di mana rasionalitas mereka mesti terhenti ketika dihadapkan akan fakta-fakta spiritual yang hadir pada diri mereka.

Skema Tuhan dalam menyampaikan nilai-nilainya: keyakinan akan Tuhan à Agama (Ibadah dan kehidupan sosial kemasyarakatan) à nilai-nilai moral (akhlak). Investasi awal dalam diri manusia menyadari akan keberadaan Tuhan adalah keyakinan atau kesadaran akan keberadaa-Nya. Agama serta ritus-ritus pelengkapnya sebenarnya hanyalah sebagai alat (tools) untuk mencapai tujuan akhir dari pesan-pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia. Kehidupan yang damai, moral yang terjaga, toleransi antar sesama, dan segala nilai kebaikan universal yang diinginkan umat manusia. Sayangnya, seringkali semua terhenti pada point yang kedua, di mana simbol-simbol dan ritus-ritus agama seperti yang menjadi esensi dari segalanya dan sehingga tak pernah mencapai tujuan akhir.

Dalam hal ini saya tak perdulikan baik God atau Gods apakah dia singular atau plural. Hal terpenting adalah apapun kuantitas dan kualitas sosok Tuhan tersebut, semua dapat terejawantahkan dalam tujuan hidup manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kalau hal ini tidak terjadi, kita tak perlu lagi memperdebatkan seberapa banyak Tuhan yang mesti kita sembah, satu Tuhan saja pun akan menjadi tidak berarti apabila tak ada substansi yang hakiki terpatri dalam diri manusia itu sendiri.

Agama sebagai Variabel Konstan: Sebuah Keperluan

Realitas yang terjadi saat ini terlihat mengerucutkan keadaan pada dua titik. Pertama, agama dan berbagai ritusnya masuk ke dalam segala relung-relung kehidupan suatu masyarakat, dan terjadi proses institutionalisasi keagamaan-keagamaan dengan menjadikan agama sebagai aspek formal (pro-formalisasi). Pada kondisi ini, agama-agama banyak bercumbu dengan aspek-aspek ekonomi, politik, sosial, dan bahkan kekuasaan. Hal ini sangat rawan akan terjadinya penjustifikasian hal-hal atau kepentingan yang bersifat duniawi atas nama agama. Agama pada akhirnya hanya sebagai pelarian (eskaptisme) dari berbagai hal ketika manusia tidak berhasil mengoptimalkan rationalitas dalam menghadapi konteks kehidupan yang sedang dihadapi. Dengan demikian, agama akan menjadi segala macam prosedural yang mengatur segala aspek kehidupan tanpa menyempatkan rationalitas menyeruak dan menemukan titik optimalnya.

Sedangkan kutub lain, agama tetap diusahakan terpisahkan dari aspek sosial kemasyarakatan dalam pengertian proses sekularisasi atau paham sekularisme. Pada konteks ini, bisa jadi akan membawa keadaan keberagamaan menjadi lebih baik. Dalam artian, segala macam kepentingan yang bersifat duniawi dijalankan dengan identitas sebenarnya, tanpa meminjam identitas atas nama agama atau memanifestasikan nilai-nilai Tuhan.

Mengapa agama perlu sebagai variabel konstan? Dalam ekonomi, kita mempelajari bagaimana kita mencoba menganalisa dan memahami bagaimana variabel satu mempengaruhi variabel lainnya dengan menganggap variabel lain dianggap konstan. Penggunaan analisa dengan cara ini bertujuan agar kita benar-benar mengetahui bagaimana perilaku variabel satu dipengaruhi variabel lainnya. Sehingga kesimpulan mengenai bagaimana perilaku (behavior) dari variabel tersebut kita hasilkan secara benar.

Hal ini juga penting ketika para ilmuwan melakukan penelitian dan mengamati bagaimana berbagai kehidupan ini berjalan dan termaktub dalam sebuah sistem yang mempengaruhi satu sama lainnya. Secara tidak sadar para ilmuwan ini sebenarnya sedang menganggap Tuhan itu sebuah variabel lain yang dianggap konstan. Apabila tidak, tentu saja perkembangan ilmu pengetahuan tidak akan sedahsyat sekarang karena kesimpulannya akan selalu jelas, “Segala sesuatu yang ada di dunia ini semua mengikuti kehendak Tuhan” That’s all. Tidak perlu lagi ada penjelasan rumit dan menjemukkan pikiran.

Sebagai ekonom, tentu saja dalam membuat sebuah model ekonomi yang berusaha menjelaskan bagaimana variabel-variabel independen menjelaskan variabel dependen secara tidak sadar juga kita menganggap Tuhan adalah variabel lain yang dianggap konstan. Padahal segala hal yang terjadi di dunia ini berdasarkan kehendak Tuhan, manusia hanya dalam tataran berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin. Atau mungkin kita berpendapat tidak demikian adanya. Sikap ini juga menyiratkan secara tidak sadar kita sedang mengkerdilkan peran dan fungsi Tuhan dalam detik-detik kehidupan kita. Seba salah memang....

Ber-Tuhan: Ber-Agama atau Ber-Budaya,

“Sisi antropologi mengatakan penyebarluasan agama/sistem religi sangat dekat dengan faktor keluarga/adat /kesukuan. Wajar, karena transfer ilmu religi pertama-tama (paling basic) diajarkan pada lingkup ini.”

Berdasarkan pernyataan tersebut, justru menimbulkan pertanyaan mengenai historikal dari agama dan budaya berkaitan dengan Ketuhanan. Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana suatu hal dikatakan sebagai ritus agama atau sebagai ritus budaya. Ritus agama mempengaruhi ritus budaya atau sebaliknya. Manakah yang lebih dulu hadir, agama atau budaya?

Ritus-ritus budaya hadir melalui pergulatan manusia antar manusia dengan segala macam faktor adat atau kebersamaan kolektif kesukuan yang pada akhirnya terciptalah sebuah fenomena ritual yang disepakati bersama. Ritual ini terlahir dari hasil proses pengartikulasian nilai-nilai yang dipahami bersama ke dalam perilaku sosial yang kemudian bertransformasi secara turun temurun. Jadi, ritualisme budaya bisa jadi lebih dahulu terlahir daripada ritualisme agama. Dengan demikian, untuk sekedar mengenal ritual-ritual saja sebenarnya manusia tidak perlu ber-Tuhan. Apakah pola berfikir kausalitas ini sudah benar?

Mungkin pola berfikir akan kita bawa ke arah sejauh mana peran Tuhan dengan segala firman dan wahyu-Nya pada akhirnya menciptakan berbagai kepercayaan dan ritualisme keberagamaan yang dilakukan oleh manusia. Lalu, apakah rasa Ketuhanan memerlukan ritual-ritual, atau mungkin sebaliknya ritual-ritual memerlukan rasa Ketuhanan? Dan apakah cukup dengan melaksanakan ritual-ritual tersebut kita merasakan nilai-nilai yang Tuhan sampaikan. Atau sebenarnya nilai-nilai Tuhan itu sudah ada dalam diri kita?

Meyakini Tuhan saja tanpa melaksanakan ritual-ritualnya kita akan terjebak dalam ruang agnostik. Hal ini juga sebenarnya akan menghasilkan sebuah pandangan yang menyesatkan, di mana seseorang yang meyakini sekaligus melaksanakan ritual tersebut akan terlihat sebagai pemeluk agama yang sempurna. Sedangkan menurut saya, kesempurnaan itu hadir ketika manusia telah berhasil melaksanakan esensi dari keberagamaan tersebut, tidak hanya ritual.

Lalu apabila kita dihadapkan pada pertanyaan “We need to be religious or to have religion?” Sepenuhnya saya tidak terlalu peduli akan kedua kategori tersebut. Tetap saja esensi keberagamaan jauh lebih penting dibandingkan pemujaan dan terlarut dalam simbol-simbol keagamaan itu sendiri.

Saya berharap secara pribadi bahwa tulisan ini akan menjadi awal dari pemikiran-pemikiran selanjutnya, dan bukan sebagai akhir pemikiran dan diskusi kita menyoal Ketuhanan.

----------------- +++++ -------------------

                            

I’m a twenty something

Twenty something-Jamie Cullum


After years of expensive education,
a car full of books and anticipation,
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
but the world don't need scholars as much as I thought.

Maybe I'll go travelling for a year,
finding myself or start a career.
I could work for the poor though I’m hungry for fame
we all seem so different but we're just the same.


Maybe I'll go to the gym, so I don't get fat,
aren't things more easy with a tight six pack?
Who knows the answers? Who do you trust?
I can't even separate love from lust.


Maybe I’ll move back home and pay off my loans,
working nine to five answering phones.
Don't make me live for my friday nights,
drinking eight pints and getting in fights.


I don't want to get up, just let me lie in,
leave me alone
, I'm a twenty something.


Maybe I'll just fall in love that could solve it all,
philosophers say that that’s enough,
there surely must be more.


Love ain’t the answer nor is work,
the truth eludes me so much it hurts
. 
But I’m still having fun and I guess that's the key,
I'm a twenty something and I'll keep being me.


I’m a twenty something.
Let me lie in, Leave me alone.
I’m a twenty something.

A Song That Is A Story About ‘The Dirty Politicians’

The Beatles - Piggies

Have you seen the little piggies
Crawling in the dirt
And for all the little piggies
Life is getting worse
Always having dirt to play around in.

Have you seen the bigger piggies
In their starched white shirts
You will find the bigger piggies
Stirring up the dirt

Always have clean shirts to play around in.

In their styles with all their backing
They don't care what goes on around

In their eyes there's something lacking
What they need's a damn good whacking.

Everywhere there's lots of piggies
Living piggy lives
You can see them out for dinner
With their piggy wives
Clutching forks and knives to eat their bacon.

Piggies- George Harrison, Beatles 1968. Taken from White Album.

This song was a story about ‘the dirty politicians’

Berikut beberapa hal yang gue bisa utarakan seputar moral cerita dalam lagu di atas:

Apakah kau lihat politisi-politisi muda itu

Larut dalam permainan politik yg kotor

Dan lihatlah politisi-politisi muda itu

Hidupnya semakin tidak tentu arah

Akademis yang jeblok dan kuliahnya yang tak menentu

Demi turut merasakan kotornya arena politik yang baginya menggiurkan

Apakah kau pernah lihat politisi elit negeri ini

Dengan tampang necis dan seolah bijaksana

Kalian akan menemukan mereka itu

Sedang asyik memainkan dan mengatur rencana politiknya

Tentu dengan menggerakkan pion-pionnya yang seperti kerbau dicocok hidungnya

Hidupnya penuh sandiwara

Dengan selalu berusaha menampilkan sosok pribadi yang bersih di dalam arena politik yang kotor itu

Dengan berbagai cara dan dukungan di belakangnya

Sebenarnya mereka tidak begitu peduli dengan apa yang sedang terjadi sekitarnya

Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan kekuasaan

Yang mereka butuhkan adalah berbagai cara untuk mencapai hal itu semuanya

Kita akan banyak menemukan di mana-mana politisi-politisi kotor itu

Hidup di antara relung-relung kehidupan kita

Menghiasi kehidupan di sudut-sudut malam kota

Terkadang dengan ”lonte-lonte” piaraan mereka

Mereka menikmati gaya hidup mereka yang ”tinggi” sementara rakyat yang diwakilinya hidup dalam keadaan lapar dan menderita

Interpretasi lagu ini gue persembahkan untuk:

Buat yang mengaku agen perubahan namun tak sadar dirinya hanyalah miniatur kebusukan yang terjadi di bangsa ini....

[Semoga bukan intepretasi yang salah dari gue buat lagu di atas. Meskipun salah, yasudahlah toh tak ada juga yang peduli.........]

Jakarta Pun Bergoyang!

Pemilihan Langsung Gubernur DKI Jakarta baru saja dilalui sehari yang lalu. Sebuah ritual politik pemilihan langsung kepala daerah untuk pertama kalinya dilaksanakan di ibukota negara. Euforia pemilihan ini sepertinya mengundang demam dan perhatian dari tidak hanya penduduk Jakarta itu sendiri, melainkan juga masyarakat lain di Indonesia di luar Jakarta. Mengapa begitu? Tentu saja DKI Jakarta, selain satu sisi sebagai suatu daerah secara otonom, juga sebagai Ibukota Negara di mana pusat pemerintahan berada, dan juga berbagai pusat bisnis dengan perputaran ekonomi hampir 80% dari ekonomi Indonesia. Jadi, wajar saja jika perhelatan ini begitu menarik untuk disimak.

Hasil quick count dari beberapa lembaga riset untuk siapa yang akan menang memang tidak mengejutkan. Lembaga Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (56,12%) dan Adang-Dani (43,88%);  LP3ES mencatat Fauzi-Prijanto (57,6%) dan Adang-Dani (42,4%); Lingkaran Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (58.59%) dan Adang-Dani (41,41%); dan Litbang Kompas, Fauzi-Prijanto (57,76%) dan Adang-Dani (42,24%). Jadi pasangan Fauzi-Prijanto unggul dalam perolehan suara dengan interval 56 - 58%, dan Adang-Dani memperoleh suara dalam interval 41 - 44%. Buat yang menang, memang akan merasa cukup percaya dengan hasil quick count tersebut, sedangkan yang kalah tentu saja akan berdalih menunggu hasil resmi perolehan suara dari KPUD.

Kita memang bisa mempercayai hasil dari quick count tersebut karena dilandasi oleh metodologi statistik yang dapat dipercaya, mulai dari pembobotan sample, pemilihan sample, jumlah sample, tingkat kepercayaan, serta margin error-nya. Mungkin, kalau sebelumnya di beberapa polling yang menggunakan sms (pesan singkat) di berbagai media seringkali menunjukkan Adang-Dani yang unggul. Namun, metodologi tersebut sangatlah tidak ilmiah, dan tidak dapat dipercaya. Tapi setidaknya cukup jadi sekedar iklan GRATIS buat pasangan calon tersebut. Saya tidak tahu, mungkin juga mereka yang berpartisipasi dalam polling itu lupa, kalo Pilkada ini bukan pemilihan layaknya Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indosiar. Kalau memang mereka berfikir begitu, ya sudah “Biarkan Adang Bernyanyi Saja!” Hahahaha……

Ada hal yang menarik dalam Pilkada ini, Adang-Dani yang didukung PKS diprediksikan hanya mendapat sekitar 25% suara, dan Fauzi-Prijanto yang didukung 20 partai politik diprediksikan mendapat 75% suara. Ternyata, hasil yang terjadi Fauzi-Prijanto unggul tipis 56% versus 44%. Berarti, ada sekitar 20% suara yang beralih dari Fauzi-Prijanto ke Adang-Dani. Memang secara marketing, Adang-Dani lebih berhasil menuai simpatik pemilih melalui jargon-jargonnya, terutama untuk kelas menengah masyarakat urban yang tidak cukup diyakinkan dengan yel-yel “Coblos kumisnya..Coblos kumisnya..Sekarang Juga!” Jargon ini memang lebih laku untuk kelas urban kelas menengah-bawah, terutama agar lebih melekat di benak masyarakat.

Semula memang telah banyak kasak-kusuk, apabila Fauzi-Prijanto menang dalam Pilkada ini, akan masuk pada perdebatan pembagian kekuasaan antar partai-partai pendukungnya. Dalam politik, katanya “Tidak ada makan siang gratis!” Hal inilah yang sebenarnya menjadi kredit yang kurang baik dalam persepsi masyarakat. Bisa jadi sejak Pilkada selesai, dan quick count telah keluar, dan Fauzi-Prijanto telah ”haqul yakin” menang dalam Pilkada ini. Kasak-kusuk pembagian kekuasaan tersebut telah berlangsung.

Gempa yang terasa di Jakarta pada tengah malam setelah Pilkada selesai akibat pusat gempa yang terjadi di Indramayu sebesar 7 skala richter mungkin membuat sebagai penduduk Jakarta ketakutan. Tapi jangan salah, seharusnya kita merasa senang, toh rapat kasak-kusuk pembagian kekuasaan itu sapa tahu menjadi bubar, karena para elit partai itu kalang-kabut menyelamatkan diri dari gempa! Hahahahaha.......dan Jakarta Pun Bergoyang!

Irak : Konflik dan Sepak Bola

Gelora Bung Karno, Minggu, 29 Juli 2007, sebuah sejarah tertoreh, namun bukan Indonesia Raya yang bergema di saat itu. Indonesia hanyalah sebagai penyelenggara yang menyaksikan dramatisasi sepakbola Asia di tahun ini.

Hari itu, siapa sangka, negeri yang kini dalam keadaan kehancuran, keadaan politik yang tidak stabil, konflik berkepanjangan, dan keadaan ekonomi yang tidak menentu ternyata mampu menghadirkan suguhan permainan sepak bola yang mumpuni, Irak, juara Piala Asia 2007.

Hari itu, rakyat Irak berdiri tegap bersatu sebagai satu bangsa yang padu serta bergembira menyambut sebuah kemenangan. Sebuah rasa kemenangan yang bukan hasil dari keberhasilan menundukkan kependudukan Amerika Serikat, dan juga rasa kemenangan yang tidak membutuhkan peluru, mortir, granat, darah, dan kepedihan. Namun hanyalah sebuah permainan sepak bola.

Hari itu juga rakyat Irak seperti bersatu sebagai sebuah bangsa yang utuh, tanpa memandang siapa Syiah, siapa Sunni, siapa Kurdi, atau segala macam ras, suku, dan beragam primordialisme lainnya. Rasa bersatu itu tidak memerlukan legitimasi atau pesan-pesan atas nama firman Tuhan dalam kitab suci bahwa sesama mereka adalah bersaudara. Namun sekali lagi, hanyalah melalui sepak bola.

Hari itu siapa sangka juga, pada akhirnya dapat kita katakan bahwa sepak bola bisa lebih efektif menyatukan sesama dalam masyarakat sebuah bangsa di tengah konflik dan peperangan yang terus menyeruak. Memang bisa jadi hanya temporer, dan setelah itu kita bisa mengatakan “the party is over,” namun hal itu cukuplah menyegarkan mereka di antara keresahan kehidupan penuh dentuman bom, desingan peluru, tangisan anak-anak, dan gelimangan darah.

Seperti pada headline koran Jakarta Post July 30, 2007, “Iraq completes Asian Cup dream.” Irak berhasil menyuguhkan penutup pertandingan Piala Asia yang cukup memukau. Rakyat Irak dapat sejenak bergembira menyambut kemenangan ini. Perlu saya katakan, mereka cukuplah membutuhkan petasan atau kembang api untuk diledakkan, dan juga mengarahkan senapan ke udara dari butiran peluru yang ditembakkan, bukan meledakkan bom bunuh diri atau mengarahkan senapannya kepada sesama biar rasa kemenangan ini teruslah berlanjut dan tak lekas sirna, serta tak ada lagi darah dan nyawa yang hilang sia-sia.

Indonesia, teruslah berlatih!!!!

Kisah Dibalik Ring 1 SBY

Ini cerita diambil dari milis IE 2002, dituturkan oleh Bung Firman sebagai berikut:

Saya jd ingin sedikit berbagi pengalaman saya beberapa minggu berkeliaran di sekitar istana.

Klo temen2 ada yg baca kompas hr senin, SBY menangis ketika menerima warga korban lumpur Lapindo dan mendengar nasib mereka. Nah pertanyaannya selama ini ke mana aja pak SBY? Berdasarkan berita di koran, ternyata selama ini yang sampai di SBY jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh warga korban lumpur Lapindo. Tentunya hal ini menjadi sangat aneh. Orang-orang di sekitar SBY tampaknya dengan sengaja membisikkan informasi yang salah kepada SBY. ckckck..

Nah saya masuk kepada inti yang ingin sampaikan kepada temen2, yakni mengenai pergulatan yang terjadi di lingkaran paling dalam SBY. Selama berkeliaran di sekitar istana, ternyata di antara lingkaran terdalam SBY sendiri terjadi saling sikut-menyikut yang benar2 parah, a.l:

1.

Mungkin temen2 sempat baca surat pengunduran diri dari Yenny Wahid sebagai staf ahli SBY (meski akhirnya dia bantah, tapi sumber yang dapat dipercaya menyatakan surat itu asli) dimana Yenny mengatakan usahanya untuk mendekatkan Gus Dur selalu dihalangi oleh orang terdekat SBY(sekretaris SBY). bahkan disinyalir orang terdalam SBY sendiri yang dengan sengaja membocorkan surat Yenny.

2.

Sebagaimana temen2 juga mungkin tahu, tugas pertama wantimpres adalah memberi rekomendasi mengenai amandemen UUD. Setelah mereka melakukan tugasnya, mereka pun mengirimkan surat mengenai isi rekomendasi tersebut melalui setneg. Namun apa yang terjadi, surat tersebut baru sampai 1 bulan setelah pengiriman. itupun saat SBY mengadakan rapat pleno dengan wantimpres. SBY mengira Wantimpres telah lalai, padahal ada seseorang yang dengan sengaja menyimpan surat tersebut.

3.

Pergulatan lebih lagi terjadi ketika setneg masih dikuasai yusril. di masa itu, kisahnya, antara setneg (yusril) dengan sekab (sudi silalahi) bagaikan korsel dan korut. selain itu, kalo temen2 mengikuti perkembangan UU mengenai wantimpres, temen2 bakal lihat bagaimana fungsi2 wantimpres dipreteli satu2 oleh yusril.

Nah itu bbrp crt di antara banyak lg cerita mengenai kondisi lingkar dalam SBY. coba temen2 bayangkan. pembisik2 utama SBYslg berebut pengaruh, menyembunyikan info, bahkan memberikan info yang salah pada SBY demi kepentingan pribadi atau golongan. bagaimana coba nasib bangsa ini...??? rakyat pun jadi korban.. hhh

Satu lagi tergeser

(Ini sebelumnya gw posting di milis IE 2002)
Kenapa Cel, Lin Che Wei memutuskan mengundurkan diri dari Danareksa?
Itu sih yang gw baca dari koran akhir2 ini...Apa benar mengundurkan diri atau "ditendang" mengikuti jejak para CEO di beberapa BUMN sebelumnya (Telkom, Jamsostek, etc.).
Namanya BUMN memang banyak sarat kepentingan politik turut bermain, dan untuk CEO di perusahaan BUMN terutama yg juga "gudang uang" kemampuan me-manage perusahaan gak jadi jaminan....kalkulas i politik dan kepentingan partai juga lebih penting apalagi menjelang Pemilu 2009.
Arwin Rasyid misalnya, Telkom secara finansial, performance- nya menunjukkan peningkatan, namun alasan konflik di tubuh internal membuatnya tak lama bercokol di posisi itu. Jamsostek, yang merupakan perusahaan pengelola dana dari jutaan tenaga kerja tentu saja membuat air liur elit politik tak tertahankan untuk mencicipi aliran dana sebagai pemulus jalan kegiatan politiknya. Alhasil, goncangan untuk bertahan di posisi puncak cukup besar.
Dan Bulog, di mana Widjanarko Puspoyo, mantan kader Golkar yang "murtad" ke PDI-P tentu saja membuat Jusuf Kalla cs membongkar segala macam penyimpangan yg dilakukannya agar kembali kader Golkar yang menduduki posisi "basah" itu. Usut-punya-usut, dana "taktis/non- bujeter" dari institusi ini memang sangat besar, karena perannya juga turut mengambil profit dari gap harga COGS beras dan harga jualnya. Harga COGS ini yang dapat dimainkan... .
Berbagai paper yg ada, menunjukkan bahwa setiap perusahaan yg memiliki kaitan dengan partai politik mengakibatkan setidaknya berbagai macam distorsi dalam kinerjanya, entah itu finansial maupun dari sisi manajerialnya.
Lalu, selanjutnya siapa lagi? Agus Marto (Bank Mandiri), atau Emirsyah Satar (Garuda Indonesia), atau siapa? Tunggu saja tanggal mainnya....
Salam,
GFR

Reputasi Elite Politik Menuju Titik Nol

Entah akan memulai darimana menanggapi kasus seputar penggunaan dana DKP dari Departemen Kelautan oleh para calon wapres-presiden untuk Pemilu 2004. Memang tak perlu disangkal, pengungkapan kasus korupsi sekarang ini banyak menyeret wajah-wajah lama di pemerintahan yang lalu. Seperti dua mata pisau, satu sisi ingin mengungkapkan pemungutan dana non-budgeter yang dianggap sebagai tindakan ilegal secara hukum, namun di sisi lain turut pula terungkap ke mana pada akhirnya dana tersebut disalurkan.

Ada yang menarik dari sisi Rokhmin Dahuri itu sendiri bagi saya. Saya memang tidak mengerti betul dia itu ketika ditunjuk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan apakah memang berasal dari profesional yang ahli di bidangnya, atau perwakilan dari partai politik tertentu. Walaupun hingga kini saya tidak mengerti dia itu kader partai politik mana. Hal yang menarik pada bagian ini adalah mengapa pada akhirnya dia memberikan sumbangan pada semua pasangan calon? Analisis saya ada dua kemungkinan. Pertama, tentu saja dalam ruang lingkup perpolitikan Indonesia, posisi berupa jabatan menteri hingga kini layaknya suatu ambisi yang harus dicapai. Dengan memberikan pada semua pasangan calon, Pak Rokhmin seolah-olah sedang menebar benih di mana-mana, siapa yang jadi atau terpilih, pasangan itulah yang akan kembali didekati dengan mencoba mengingatkan balas jasa dirinya dalam memberikan sumbangan tersebut. Sedikit terlihat safety player memang, namun ternyata apa yang dilakukan tidak "jaminan" di kemudian hari. Kedua, bisa jadi hal ini adalah suatu hal yang sudah membudaya di semua institusi pemerintahan atau departemen untuk memberikan semacam "upeti" untuk kegiatan-kegiatan politik, di mana saya sendiri yakin di masing-masing institusi pemerintahan pasti memiliki dana non-budgeter atau dana taktis. Kalau begini, tentu saja apa yang terjadi sekarang bukan tidak mungkin akan turut pula pengusutan pada instansi pemerintahan yang lain.

Suatu kolom di Kompas yang ditulis oleh Budiarto Shambazy cukup menarik. Dikatakan bahwa masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat pecundang. Dana DKP diambil dari masyarakat yang kemudian disalurkan untuk kampanye politik, dan setelah terpilih para pejabat tersebut di kemudian hari minta kenaikan gaji, mobil baru, sampai laptop, yang ternyata juga didanai dari masyarakat. Jadi sadar tidak sadar, kita secara tidak langsung membiayai kegiatan para elite politik mulai dari sebelum terpilih hingga setelah terpilih. Lalu, apa benefit-nya buat kita? Terus, mau sampai kapan begini keadaannya? 

Sarjana Muda

Pas banget abis nonton film The Pursuit of Happyness di Djakarta, terus ada pengamen di sekitar jalan MH Thamrin nyanyiin lagunya Iwan Fals yang judulnya Sarjana Muda. Jadi meresap banget perjuangan orang-orang yang berjuang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, to pursue.......happyness

Sarjana Muda
Karya : Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan

Langkah kakimu terhenti
Didepan halaman sebuah jawatan

Terjenuh lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan

Tak perduli berusaha lagi
Namun kata sama kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat

Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia sia semuanya

Setengah putus asa dia berucap... maaf ibu...

Pesan gw: just keep fighting! optimis...optimis...optimis!

"Jangan pernah ada yang meremehkan kemampuan dirimu, termasuk ayahmu sendiri!" (salah satu pesan dalam Film The Pursuit of Happyness)

Pak Tua, Sudahlah!

Memang sulit dalam kehidupan ini di mana perbedaan generasi seringkali menjadi kendala untuk mempersatukan perspektif secara bersama-sama. Apalagi menghadapi generasi tua yang lahir dengan perbedaan dekade yang cukup jauh berbeda. Mungkin adakalanya generasi muda merasa frustasi menghadapi generasi yang selain tua, juga pesakitan politik, dan post-power-syndrom. Kaum tua ini merasa bahwa hanya generasinyalah yang paling unggul dibandingkan generasi sesudahnya. Mereka terus saja berfikir bagaimana bagian generasi yang lain berubah atau mengikuti menurut apa yang dipikirkannya, bukan mereka yang mencoba beradaptasi dan berkompromi dengan lingkungan yang kian hari kian terus mengalami perubahan.
Kaum ini lagaknya sangat megalomaniak, arogan, dan layaknya ratu adil yang bisa menyelesaikan semua masalah di dunia ini. Retorikanya membuai mimpi, namun sayang mereka seringkali tidak berkaca pada diri sendiri.

Pernah berbicara dengan pongahnya mengenai pentingnya peran demokrasi dalam membangun peradaban, namun apa daya pada kesehariannya, sungguh sangat otoriter dalam membina keluarga.
Pernah bicara mengenai peran ilmu pengetahuan dan teknologi, pentingnya peran teknologi informasi dalam era globalisasi, namun jangankan menggunakan internet, menjalankan program standar microsoft word, power point, apalagi excel pun tak bisa, menggunakan teknologi sms pun diketiknya dengan tertatih-tatih melalui jari-jemarinya yang sudah kaku.
Pernah bicara soal moral dan etika, namun sayangnya sikapnya seringkali tidak sesuai apa yang diucapkan, selalu saja mengharap bagaimana orang lain seharusnya bersikap padanya, namun tidak terjadi sebaliknya, yaitu bagaimana seharusnya dia bersikap pada orang lain.

Pak Tua, sudahlah.....Dunia ini terus mengalami perubahan, tak bisa semua dijadikan berwarna homogen dengan kacamata anda yang kian lama kian menghitam dan buram.
Pak Tua, sudahlah.....Cukup hentikanlah semua, dan jangan selalu remehkan kami generasi muda yang mencoba mewarnai hidup ini dengan warna kami sendiri.
Pak Tua, sudahlah.....Kami semua tahu apa yang sebenarnya pada dirimu, kami berterimakasih atas segala nasihat dan tuntunan yang telah kau berikan, namun jangan paksa kami untuk mencoba mengisi jalan kehidupan kami seindah angan dan utopia mimpimu. Biarkanlah kami renungi dan putuskan jalan terbaik untuk kami sendiri dan memperbaiki bangsa ini.
Pak Tua, sudahlah.....Jangan hentikan kami untuk bermimpi menggapai semua angan dan cita-cita kami.

Pak Tua, bukankah semua hal besar diawali dengan sebuah mimpi?

Kami sadar Pak Tua sudah tak ingat lagi mengapa pada akhirnya manusia bisa menginjakkan kaki di bulan.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi pernah diketemukannya sebuah bohlam lampu yang sekarang kami bisa merasakan terangnya dunia di malam hari.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bagaimana pada akhirnya manusia bisa terbang di udara.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bahwa kami sudah bisa bercakap-cakap dengan manusia di belahan bumi yang lain melalui sebuah telefon.

Apakah semua itu akan terjadi apabila manusia tidak pernah bermimpi?

Pak Tua, apakah salah kami bermimpi ataupun bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menggapai sebuah pengalaman hidup kami yang lain untuk tinggal di negeri seberang dan kembali ke negeri kami dilahirkan untuk membangun dan memperbaikinya, dibandingkan beberapa teman seusia kami yang harus menghabiskan hidupnya dalam jeratan narkoba dan kehidupan seks bebas.
Pak Tua, apakah salah kami mencoba berkontribusi untuk bangsa ini yang terkadang lebih kami cintai dibandingkan diri kami sendiri. Walapun negeri ini tidak peduli pada kesejahteraan kami sendiri...Padamu negeri, jiwa raga kami.....
Pak Tua, apakah salah kami terus-menerus mengkritisi para elitis negeri ini yang tidak kunjung sadar dan bertobat untuk tidak terus-menerus menghancurkan negeri ini yang semakin lama semakin rapuh.
Pak Tua, jangan salahkan kami yang harus memilih jalan kami sendiri akibat perbuatan kaum dirimu yang semakin membulatkan tekad pada diri kami agar pada saatnya nanti generasi setelah kami tidak bernasib sama dengan kami atau lebih baik dari kami.
Pak Tua, waktu terus berputar, dunia terus berubah, apa yang terjadi hari ini tidak bisa kau samakan dengan hari kemarin, dan mungkin apa yang dilakukan hari ini, tidak bisa kau terapkan hal yang sama di masa yang akan datang.
Pak Tua, sudahlah, izinkan kami mencoba mewarnai kehidupan kami dengan warna kami sendiri......

Pak Tua, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi, sudahlah!
Pak Tua, kami memohon, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi kami memohon, sudahlah!

Di sudut jalan M.H. Thamrin
Jakarta, 26 Februari 2007
21.20 WIB